AMURANG KOMENTARTV – Kontingen Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Minahasa Selatan (Minsel) melayangkan protes keras setelah atlet mereka didiskualifikasi di,Babak final lead perorangan putra,hanya karena alasan terlambat, tanpa pemberitahuan resmi menggunakan pengeras suara di lokasi perlombaan.
Konseptualisasi tindakan tidak sportif..
Di Iven Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Sulawesi Utara (Sulut) ke-XII tahun 2025 di Manado.

Kekecawaan ini diungkapkan secara terbuka oleh Bendahara FPTI Minsel, Yunita Lempoy, dan Sekretaris FPTI Minsel, Welly Repi, melalui akun media sosial Facebook mereka pada. Rabu (19/11/2025).
Bendahara FPTI Minsel, Yunita Lempoy, mengungkapkan kronologi kejadian yang dinilai sangat merugikan atletnya. Menurut Lempoy, atlet Minsel sudah siaga di lokasi lomba sejak pagi, menantikan perubahan jadwal yang beberapa kali dilakukan oleh panitia. Namun, saat jadwal masuk karantina tiba, mereka dibatalkan dan dinyatakan terlambat.
”Tanpa bilang di pengerasan suara, panitia cancel Minsel masuk karantina alasan terlambat… Atlet sudah dari pagi berdiam di lokasi lomba… Mau masuk karantina, panitia tidak kasih (info) di pengeras suara, sementara kami ada berdiam duduk manis tunggu pengumuman. Panitia,bilang sudah bilang di grub lalu pengerasan suara kalian untuk apa?”.” tulis Lempoy.
Lempoy juga menyoroti ironi bahwa atlet mereka berada sangat dekat, hanya sekitar lima meter dari tenda panitia, namun pemberitahuan penting justru mengabaikan melalui pengerasan suara.

“Atlit cuma di belakang tenda panitia berjarak 5 meter dari tenda panitia miris sekali. Apa karena sudah medali sudah berprestasi,Ada apa dengan Panitia Porprov Sulut, Baru di Porprov sudah main sabotase,”ungkapnya kecewa.
Ditambahkannya,protes dengan seruan keras yang ditujukan kepada salah satu nama yang diduga pengurus cabor untuk memancarkan diri.
“Atlit Sulut tidak akan pernah maju kalau cara main cantik begini… Kalau kalian rubah kebiasaan (buruk), yakin Tuhan juga akan kasih bikin jadi atlet bagus untuk Sulut.”ujarnya.
Ungkapan rasa kecewanya,di media sosial (FB)1,meter dari garis batas,atlit dan pengurus lengkap,kong bilang terlambat..??ada penyampaian dari pengeras suara…??Krn ngoni nimau atlit Minsel mo nae to..??
Ngoni nd baku kenal Deng Steven Mamesah ..??
Torang doakan ngoni sukses tu kegiatan,
,mar ngoni panitia blm sukses pa ngoni PE diri…
Ngoni PE diri Deng sapa??nti Jo pasti ngoni akan rasa KWA …”ujar Lempoy marah.
Sekretaris FPTI Minsel, Welly Repi, menyampaikan kekecewaan mendalam atas keputusan panitia terkait nomor final Lead Putra.
“Sebagai pengurus sangat kecewa dengan keputusan yang ada dari panitia karena atlet panjat tebing untuk nomor final Lead putra berada di zona pertandingan dan lagi berada di dekat panitia,” kata Repi.
Lanjutnya,Panitia disebut hanya beralasan informasi dilakukan melalui grup WhatsApp dan keputusan tersebut merupakan hasil Technical Meeting (TM). Namun, saat diminta bukti tertulis berupa notulen TM, panitia tidak dapat menunjukkannya.
”Alasan mereka hanya resonansi lewat WA Grup tidak ada untuk respons lewat pengeras suara. Kata panitia keputusan itu adalah hasil TM tapi ketika ditanya secara tertulis tidak ada, karena tidak ditulis notulen.”tegas Repi.
Repi, menekankan bahwa kejadian ini sangat merugikan kontingen Minsel dan menuntut panitia untuk menggunakan aturan baku yang jelas. Ia juga menilai standar ganda panitia: “Kalau panitia menunda berjam-jam tidak ada sanksi.”ucapnya kesal.
Salah satu official tim, yang juga mantan Atlit panjat tebing,PON Sulut di tahun 2000,dan peringkat empat Nasional tahun 2000,Steven Mamesa mengungkapkan.
Kejadian kemarian sek dan TD, belum ada bagmna mo banding dan saya sebagai manajer tim sudah, sampaikan protes secara lisan dan jawaban dari presjur dan tim teknis yang berugas banyak janggal.
“Alasan sound rusak (presjur),
notulen keputusan tertulis TM tidak ada.Minta buka aturan kompetisi tidak respon jawaban semua hasil keputusan TM.
Pertanyakan masalah kartu tidak di pakai katanya.
Atlit dan official perna dengar pemberitahuan presjur, menyampaikan nama atlet untuk bertanding melalui sound systim.
Semua lomba pasti bukan cuma satu grup wa, alat informasi ke kontingen setau saya terkait informasi di dalam venue yang paling penting.
Atlit dan official FPTI Minsel hanya berjarak dari meja juri 2-5 meter dalam arti tidak terlambat tiba di venue beda dengan atlit yang tahu, tidak ada di lokasi dekat meja presjur
Jadi keliatan di sengaja informasi di zona pertandingan tidak di pakai,dan semua itu sangat merugikan tim panjat tebing minsel.”ujar Mamesa,juga di benarkan oleh sekertaris FPTI Minsel Welly Reppi.
Sampai saat ini,belum ada keterangan resmi dari pihak Panitia Pelaksana Porprov Sulut XII 2025 maupun pengurus FPTI Sulut terkait dugaan sabotase dan diskualifikasi kontingen Minsel ini.”tutup Welly. (Dotu)


















