banner 728x250

Pertandingan Futsal HUT Desa Tawaang. Dalending : Panitia Pelaksana Tidak Konsisten Menerapakan Regulasi Pertandingan

banner 120x600
banner 468x60

MINSEL KOMENTARTV – Pelaksanaan Futsal Tournament dalam rangka HUT Desa Tawaang Barat ke-16 menuai protes dari Baliling Team Lewet. Tim tersebut menilai panitia pelaksana tidak konsisten dalam menerapkan regulasi pertandingan, sehingga keputusan yang diambil diduga berdampak langsung terhadap peluang mereka melaju ke babak 16 besar.

banner 325x300

Keberatan itu mencuat setelah pertandingan antara MDT FC dan OWL FC pada 12 September 2026 berakhir dengan skor 16-1 untuk kemenangan MDT FC. Menurut pihak Baliling Team Lewet, pertandingan tersebut seharusnya tidak dilanjutkan apabila jumlah pemain yang didaftarkan OWL FC memang melampaui batas pemain yang diperbolehkan sesuai regulasi turnamen.
Kekecewaan tersebut disampaikan Manajer Baliling Team Lewet, Jerry Kalantow, melalui Kapten Tim Fatly Wulur dan pemain Aldo Dalending.
Aldo Daalending membeberkan, berdasarkan catatan yang mereka miliki, OWL FC telah mendaftarkan dan memainkan 13 pemain sah dalam dua pertandingan sebelumnya. Dengan demikian, menurut penafsiran Baliling Team Lewet terhadap Bab I Poin II regulasi turnamen, OWL FC hanya memiliki kesempatan menambahkan dua pemain lagi untuk melengkapi daftar pemain atau Daftar Identitas Pemain (DIP) dengan batas maksimal 15 pemain.

Namun, dalam pertandingan melawan MDT FC pada 12 September 2026, OWL FC disebut kembali mendaftarkan lima pemain baru. Baliling Team Lewet mempertanyakan keabsahan tiga pemain tambahan yang dinilai melampaui kuota tersebut.
“Jika mengacu pada regulasi yang kami pahami, hanya dua pemain tambahan yang dapat didaftarkan. Karena itu, kami mempertanyakan dasar panitia mengizinkan pertandingan tetap berjalan,” Tandas Aldo.
Skor 16-1 Dipersoalkan, Panitia Dinilai Tidak Tegas

Persoalan utama bukan hanya skor telak 16-1, melainkan keputusan panitia yang tetap mengesahkan hasil pertandingan meskipun, menurut keterangan pihak Baliling Team Lewet, telah terjadi kelalaian dalam pemeriksaan kelayakan pemain.
Pihak Baliling Team Lewet menyebut panitia telah mengakui adanya kelalaian dalam pelaksanaan pertandingan. Kelalaian tersebut, menurut keterangan yang disampaikan kepada mereka, terjadi karena salah satu urusan pribadi membuat panitia tidak fokus terhadap regulasi pertandingan.
Pengakuan mengenai kelalaian itu justru memunculkan pertanyaan lebih lanjut. Jika memang terdapat pelanggaran administrasi pemain, mengapa tidak dilakukan pemeriksaan dan penentuan sanksi berdasarkan aturan yang berlaku?

Baliling Team Lewet berpendapat, apabila pelanggaran tersebut terbukti memenuhi ketentuan yang mengharuskan kemenangan walkover (WO), hasil pertandingan seharusnya ditetapkan 3-0 untuk MDT FC, bukan 16-1.
Namun, panitia disebut tetap mempertahankan hasil pertandingan dengan alasan laga sudah terlanjur dilaksanakan. Sikap ini dinilai tidak memberikan kepastian mengenai bagaimana pelanggaran regulasi seharusnya ditangani dalam kompetisi.
Meski demikian, penetapan WO maupun perubahan skor tetap perlu merujuk pada bunyi regulasi yang berlaku dan bukti administrasi pemain. Karena itu, dokumen pertandingan, daftar pemain, serta ketentuan sanksi menjadi bagian penting yang perlu diperiksa untuk memastikan keputusan yang tepat.

Aturan Tie-Breaker Dipertanyakan, Nasib Baliling Team Lewet Berubah
Kontroversi berikutnya muncul dalam penentuan urutan klasemen. Baliling Team Lewet mempersoalkan penggunaan metode tie-breakerdengan urutan selisih gol, head-to-head, kemudian fair play.
Menurut Kapten Tim Baliling Team Lewet, Fatly Wulur, urutan tersebut tidak tercantum secara tertulis dalam regulasi yang mereka ketahui dan dinilai diterapkan secara sepihak oleh panitia.
Lanjutnya, persoalan tersebut menjadi krusial karena Grup B dihuni lima tim, dengan tiga tim sama-sama mengoleksi sembilan poin. Dalam situasi tersebut, Baliling Team Lewet berpendapat bahwa penentuan peringkat semestinya menggunakan mekanisme yang jelas dan konsisten, termasuk memperhitungkan hasil pertemuan langsung apabila memang ditetapkan dalam regulasi kompetisi.

Dituturkan Fatly, dalam sebuah turnamen, metode penentuan peringkat bukan hanya urusan administrasi. Aturan tersebut menentukan tim yang berhak melanjutkan perjuangan ke fase gugur. Perbedaan penerapan metode klasemen dapat berujung pada perubahan posisi, bahkan menentukan siapa yang lolos dan siapa yang harus tersingkir.
“Keputusan klasemen itu membuat kami Baliling Team Lewet berada di urutan ketiga dan kehilangan kesempatan melaju ke babak 16 besar. Padahal menurut perhitungan kami, Baliling Team Lewet seharusnya lolos”,ungkap Fatly merasa kecewa dengan Panitia tournament futsal.

Dugaan Keberpihakan Sehingga Menimbulkan Kerugian Finansial
Rangkaian persoalan tersebut memunculkan kecurigaan dari pihak Baliling Team Lewet terhadap netralitas panitia. Mereka menduga keputusan yang diambil dalam pertandingan MDT FC melawan OWL FC, ditambah penerapan metode tie-breaker yang dipersoalkan, telah merugikan tim mereka.

Pihak Baliling Team Lewet bahkan mempertanyakan kemungkinan adanya pengaturan pertandingan atau match fixing. Kecurigaan itu dikaitkan dengan dugaan penggunaan pemain yang tidak memenuhi ketentuan dan dampaknya terhadap perhitungan selisih gol.
Namun, dugaan pengaturan pertandingan merupakan tuduhan serius yang membutuhkan bukti konkret. Belum ada dasar yang cukup untuk menyimpulkan bahwa telah terjadi match fixing atau bahwa panitia sengaja menguntungkan tim tertentu. Hal tersebut perlu ditelusuri melalui dokumen pertandingan, daftar pemain, keputusan resmi panitia, dan keterangan pihak-pihak terkait.

Di sisi lain, Aldo Dalendeng menegaskan bahwa persoalan ini bukan hanya menyangkut hasil pertandingan, tetapi juga kerugian finansial yang diklaim dialami Baliling Team Lewet akibat gagal melaju ke babak berikutnya.
Menurut pihak tim, regulasi pertandingan juga tidak dibagikan kepada seluruh peserta sebelum kompetisi dimulai.
“Jika benar demikian, kondisi tersebut menimbulkan persoalan transparansi karena peserta seharusnya mengetahui ketentuan mengenai pendaftaran pemain, sanksi pelanggaran, penentuan klasemen, dan mekanisme keberatan sebelum pertandingan berlangsung”,tandas Aldo.

Panitia Harus Berikan Penjelasan Terbuka
Polemik ini menjadi ujian bagi kredibilitas penyelenggaraan Futsal Tournament HUT Desa Tawaang Barat ke-16. Kompetisi olahraga tidak hanya ditentukan oleh hasil di lapangan, tetapi juga oleh konsistensi penerapan aturan, ketegasan pengambilan keputusan, dan keterbukaan panitia kepada seluruh peserta.
Baliling Team Lewet mengharapkan adanya penjelasan resmi mengenai dasar pengesahan skor 16-1, keabsahan pemain OWL FC, serta metode tie-breaker yang digunakan untuk menentukan peringkat Grup B.
“Panitia juga perlu menjelaskan apakah regulasi tertulis telah ditetapkan sebelum turnamen dimulai, bagaimana aturan tersebut disampaikan kepada peserta, dan apa dasar keputusan yang menyebabkan Baliling Team Lewet berada di posisi ketiga klasemen”,tukasnya.
Tambah Aldo, klarifikasi tersebut penting agar polemik tidak berkembang menjadi saling tuding antar tim. Apabila ditemukan kekeliruan, panitia perlu menjelaskan mekanisme evaluasi atau penyelesaian sesuai ketentuan kompetisi.
“Sebaliknya, apabila keputusan yang diambil telah sesuai aturan, dasar dan bukti pendukungnya perlu dibuka secara transparan kepada pihak yang mengajukan keberatan”,pungkas Aldo.
(Dotu)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *